K-Online, Kota - Belasan warga yang antri nasi jangkrik dan uyah asem pada prosesi buka luwur harus menjalani perawatan karena ada yang pingsan.
Beberapa warga lainnya juga ada yang luka pada kaki karena terinjak oleh warga lain yang ikut antre.
Zuhal, petugas kesehatan pada acara buka luwur menyebutkan, sejak dini hari hingga pukul 08.00 WIB memang ada 16 warga yang harus dirawat.
Sebagian besar karena pingsan, terinjak.
Salah satu pengunjung, katanya, dibawa pulang ke pondoknya karena pingsan dan harus ditandu.
Pengunjung yang pingsan diduga karena belum makan pagi sehingga ketika antre dalam jangka waktu yang terlalu lama fisiknya tidak kuat.
Antrean warga diperkirakan mencapai ribuan orang karena yang menginginkan nasi jangkrik dan uyah asem tidak hanya dari lokal Kudus, melainkan dari berbagai daerah di Tanah Air.
Tradisi "Buka Luwur" yang diselenggarakan setiap 10 Muharam 1436 Hijriah atau bertepatan dengan Senin (3/11) merupakan ritual keagamaan untuk menandai penggantian kelambu di Makam Sunan Kudus.
Panitia ritual selalu menyiapkan puluhan ribu bungkus nasi jangkrik serta uyah asem untuk dibagikan kepada masyarakat.
Nasi bungkus yang disediakan berupa nasi "jangkrik goreng" dan "uyah asem".
Menu nasi "uyah asem" terdiri atas daging kerbau tanpa kuah, sedangkan menu nasi "jangkrik goreng" dilengkapi kuah "tetelan" daging kerbau.
Jumlah beras yang dimasak bisa mencapai 5 ton lebih dan kambing bisa mencapai pukuhan ekor.
Untuk menyediakan puluhan ribu bungkus nasi tersebut, dibutuhkan tenaga untuk memasak hingga 500-an orang lebih.
Beberapa warga meyakini nasi tesebut bisa mendatangkan keberkahan karena diawali dengan ritual keagamaan yang dipimpin ulama setempat.
Beberapa warga lainnya juga ada yang luka pada kaki karena terinjak oleh warga lain yang ikut antre.
Zuhal, petugas kesehatan pada acara buka luwur menyebutkan, sejak dini hari hingga pukul 08.00 WIB memang ada 16 warga yang harus dirawat.
Sebagian besar karena pingsan, terinjak.
Salah satu pengunjung, katanya, dibawa pulang ke pondoknya karena pingsan dan harus ditandu.
Pengunjung yang pingsan diduga karena belum makan pagi sehingga ketika antre dalam jangka waktu yang terlalu lama fisiknya tidak kuat.
Antrean warga diperkirakan mencapai ribuan orang karena yang menginginkan nasi jangkrik dan uyah asem tidak hanya dari lokal Kudus, melainkan dari berbagai daerah di Tanah Air.
Tradisi "Buka Luwur" yang diselenggarakan setiap 10 Muharam 1436 Hijriah atau bertepatan dengan Senin (3/11) merupakan ritual keagamaan untuk menandai penggantian kelambu di Makam Sunan Kudus.
Panitia ritual selalu menyiapkan puluhan ribu bungkus nasi jangkrik serta uyah asem untuk dibagikan kepada masyarakat.
Nasi bungkus yang disediakan berupa nasi "jangkrik goreng" dan "uyah asem".
Menu nasi "uyah asem" terdiri atas daging kerbau tanpa kuah, sedangkan menu nasi "jangkrik goreng" dilengkapi kuah "tetelan" daging kerbau.
Jumlah beras yang dimasak bisa mencapai 5 ton lebih dan kambing bisa mencapai pukuhan ekor.
Untuk menyediakan puluhan ribu bungkus nasi tersebut, dibutuhkan tenaga untuk memasak hingga 500-an orang lebih.
Beberapa warga meyakini nasi tesebut bisa mendatangkan keberkahan karena diawali dengan ritual keagamaan yang dipimpin ulama setempat.

Post a Comment