K-Online, Kota- Matahari belum tinggi, udara terasa segar pagi ini. Ada yang nampak berbeda di alun-alun kota Kudus, Puluhan mahasiswa dan aktivis pecinta lingkungan, menggelar peringatan Hari Bumi dengan aksi damai mengajak masyarakat mencintai lingkungan.
Koordinator aksi, Wahyu Dwi Pranata mengatakan aksi ini mengajak masyarakat untuk mencintai bumi dalam bentuk sekecil apapun misalnya dengan mendaur ulang beberapa sampah plastik yang sudah tidak digunakan, juga mengajak masyarakat untuk menanam tanaan khas Gunung Muria.
Aksi ini juga mengajak masyarakat untuk mengingat bahwa belum lama ini masyatakat Kudus diterjang bencana lingkungan dan hingga hari ini pemerintah setempat dinilai belum banyak berbuat untuk memperbaiki lingkungan.
"Kadang perilaku manusia dapat mengundang bencana, contohnya saat ini lereng muria ditanami tanaman semusim yang lunak, akibatnya tanah jadi mudah longsor"
Koordinator aksi, Wahyu Dwi Pranata Menambahkan men rut data dari Muria Reseach Center kondisi hutan lereng muria saat ini hanya tinggal 50 persen saja, sementra 50 persen lainnya telah diubah masyarakat menjadi tanaman lunak.
Akibatnya karena akar tanaman tidak lagi kuat, pada musim hujan daerah lereng Muria rawan longsor. Ini terbukti beberapa waktu lalu longsor di lereng muria menelan belasan korban jiwa. Para pengunjuk rasa membagikan selebaran, membagikan bibit tanaman dan juga menggelar panggung bebas dan pertunjukan seni yang bercerita soal upaya penyelamatan bumi dari ulah orang-orang tak bertanggung jawab.
(Odie)
Koordinator aksi, Wahyu Dwi Pranata mengatakan aksi ini mengajak masyarakat untuk mencintai bumi dalam bentuk sekecil apapun misalnya dengan mendaur ulang beberapa sampah plastik yang sudah tidak digunakan, juga mengajak masyarakat untuk menanam tanaan khas Gunung Muria.
Aksi ini juga mengajak masyarakat untuk mengingat bahwa belum lama ini masyatakat Kudus diterjang bencana lingkungan dan hingga hari ini pemerintah setempat dinilai belum banyak berbuat untuk memperbaiki lingkungan.
"Kadang perilaku manusia dapat mengundang bencana, contohnya saat ini lereng muria ditanami tanaman semusim yang lunak, akibatnya tanah jadi mudah longsor"
Koordinator aksi, Wahyu Dwi Pranata Menambahkan men rut data dari Muria Reseach Center kondisi hutan lereng muria saat ini hanya tinggal 50 persen saja, sementra 50 persen lainnya telah diubah masyarakat menjadi tanaman lunak.
Akibatnya karena akar tanaman tidak lagi kuat, pada musim hujan daerah lereng Muria rawan longsor. Ini terbukti beberapa waktu lalu longsor di lereng muria menelan belasan korban jiwa. Para pengunjuk rasa membagikan selebaran, membagikan bibit tanaman dan juga menggelar panggung bebas dan pertunjukan seni yang bercerita soal upaya penyelamatan bumi dari ulah orang-orang tak bertanggung jawab.
(Odie)

Post a Comment