K-Online, Jati- Tak ada hingar-bingar perayaan, Hanya beberapa kendaraan bermotor terparkir di luar wihara.
Kondisi bagian depan wihara juga belum sepenuhnya rampung, ini terlihat dari tumpukan material dan beberapa bahan bangunan yang masih berserakan.
Di Wihara Bodhiwaisaka inilah sekitar 15 umat Budha Kudus merayakan hari suci waisak.
Mereka merayakan waisak secara sederhana di wihara ini karena tidak punya biaya untuk pergi ke Candi Borobudur.
Walaupun mengaku sedih tak dapat berkumpul bersama ummat budha lainnya di Borobudur, namun mereka tetap menjalani prosesi sembahyang dengan penuh hikmat.
Suntoro, Pimpinan Wihara Budhipundarika Kudus mengatakan sebagian besar umat yang merayakan di wihara ini tidak punya cukup uang untuk pergi ke Borobudur, sehingga merayakan waisak di wihara yang pertama didirikan di Kudus ini.
Umat yang merayakan waisa disini hanya tinggal sekitar 15 orang, karena sebagian besar umat merayakan di Borobudur.
Meski dengan segala keterbatasan mereka tetap berfikir positif seperti yang diajarkan sang Budha
"Perayaan waisak disini karena tidak ada dana umat untuk ke sana (borobudur), sebenarnya sih pengen ke sana tapi kan sesuai ajaran budha kita harus selalu berfikiran positif, dan tidak boleh terus bersedih". Ujarnya.
M. Rosyid, Tokoh lintas agama yang ikut hadir di wihara mengatakan mereka merayakan hari rayanya dengan penuh bersahaja jauh dari hingar-bingar perayaan.
Berbeda dengan Idul Fitri dan Natal yang bisanya meriah, namun mereka telah terbiasa dan telah memahami kondisinya sebagai minoritas, hanya saja sebagai sesama manusia kita turut berempati.
(Odie)

Post a Comment