(Kudus-online.com)-Jepara,Gempa bumi yang beberapa kali mengguncang Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dan sekitarnya menjadi bukti bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak layak dibangun di Semenanjung Muria, demikian disampaikan Ahli Turbin dan Energi Lilo Sunaryo seperti dikutip antarajateng.
Menurut Sunaryo salah satu gempa bumi pada 23 Oktober 2015, pusat gempanya berada di dekat Pulau Mandalika, turut mengguncang Kecamatan Donorojo, Jepara.
Sedangkan peristiwa gempa terbaru, terjadi Rabu (11/11) malam, meski pusat gempanya terjadi di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, gempa tersebut dirasakan pula warga Jepara, termasuk dirinya serta masyarakat di beberapa kabupaten tetangga.
Karena itu pemerintah tidak perlu lagi memaksakan rencana pembangunan PLTN di Semenanjung Muria karena jelas tidak layak karena berulang kali diguncang gempa.
Ia menyatakan sejak awal menolak rencana pembangunan PLTN di Semenanjung Muria karena terdapat dua patahan, yakni di Rahtawu dan Tempur.
Hal ini juga sudah lama diketahui karena sebelumnya juga dilakukan survei oleh pihak Belanda.
Pemerintah juga telah menerjunkan ahli geologi untuk melakukan penelitian.
Hasilnya, tim geologi pemerintah yang berasal dari Bandung memang menemukan adanya patahan di laut, kemudian nyambung hingga Pegunungan Tempur, Jepara.
Meskipun hasilnya ditemukan adanya patahan bumi, pihak Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) tetap ngotot ingin melanjutkan rencana semula di Semenanjung Muria.
Di Pulau Jawa juga hampir setiap periode tertentu selalu terjadi gunung meletus, hal ini semakin memperkuat bahwa pembangunan PLTN memang tidak layak dilakukan di Jawa.
Menurut dia, rencana tersebut memungkinkan dilakukan di daerah yang tidak ada pegunungannya, seperti di luar jawa.
Selain faktor alam, Pemkab Jepara sejak lama juga mengeluarkan larangan adanya pembangunan suatu teknologi yang dapat membahayakan manusia selama 20 tahun mendatang.
(Odie)
Menurut Sunaryo salah satu gempa bumi pada 23 Oktober 2015, pusat gempanya berada di dekat Pulau Mandalika, turut mengguncang Kecamatan Donorojo, Jepara.
Sedangkan peristiwa gempa terbaru, terjadi Rabu (11/11) malam, meski pusat gempanya terjadi di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, gempa tersebut dirasakan pula warga Jepara, termasuk dirinya serta masyarakat di beberapa kabupaten tetangga.
Karena itu pemerintah tidak perlu lagi memaksakan rencana pembangunan PLTN di Semenanjung Muria karena jelas tidak layak karena berulang kali diguncang gempa.
Ia menyatakan sejak awal menolak rencana pembangunan PLTN di Semenanjung Muria karena terdapat dua patahan, yakni di Rahtawu dan Tempur.
Hal ini juga sudah lama diketahui karena sebelumnya juga dilakukan survei oleh pihak Belanda.
Pemerintah juga telah menerjunkan ahli geologi untuk melakukan penelitian.
Hasilnya, tim geologi pemerintah yang berasal dari Bandung memang menemukan adanya patahan di laut, kemudian nyambung hingga Pegunungan Tempur, Jepara.
Meskipun hasilnya ditemukan adanya patahan bumi, pihak Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) tetap ngotot ingin melanjutkan rencana semula di Semenanjung Muria.
Di Pulau Jawa juga hampir setiap periode tertentu selalu terjadi gunung meletus, hal ini semakin memperkuat bahwa pembangunan PLTN memang tidak layak dilakukan di Jawa.
Menurut dia, rencana tersebut memungkinkan dilakukan di daerah yang tidak ada pegunungannya, seperti di luar jawa.
Selain faktor alam, Pemkab Jepara sejak lama juga mengeluarkan larangan adanya pembangunan suatu teknologi yang dapat membahayakan manusia selama 20 tahun mendatang.
(Odie)

Post a Comment